Pemberantasan Kemiskinan di Negara ASEAN..,

Menurut Kuncoro, (1997: 102–103) kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum.

Faktor Penyebab Kemiskinan
Menurut Baswir, (1997: 23), Sumodiningrat, (1998: 90).Secara sosioekonomis,
terdapat dua bentuk kemiskinan, yaitu :
1. Kemiskinan absolut adalah suatu kemiskinan di mana orang-orang miskin
memiliki tingkat pendapatan dibawah garis kemiskinan, atau jumlah
pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum,
kebutuhan hidup minimum antara lain diukur dengan kebutuhan pangan,
sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan, kalori, GNP per kapita,
pengeluaran konsumsi dan lain-lain.
2. Kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang dilihat berdasarkan
perbandingan antara suatu tingkat pendapatan dengan tingkat pendapatan
lainnya. Contohnya, seseorang yang tergolong kaya (mampu) pada
masyarakat desa tertentu bisa jadi yang termiskin pada masyarakat desa
yang lain.

Di samping itu terdapat juga bentuk-bentuk kemiskinan yang sekaligus
menjadi faktor penyebab kemiskinan (asal mula kemiskinan).
(Kartasasmita, 1996: 235, Sumodiningrat, 1998: 67, dan Baswir, 1997: 23).
1. Kemiskinan natural adalah keadaan miskin karena dari awalnya memang
miskin. Kelompok masyarakat tersebut menjadi miskin karena tidak
memiliki sumberdaya yang memadai baik sumberdaya alam, sumberdaya
manusia maupun sumberdaya pembangunan, atau kalaupun mereka ikut
serta dalam pembangunan, mereka hanya mendapat imbalan pendapatan
yang rendah. Menurut Baswir (1997: 21) kemiskinan natural adalah
kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor alamiah seperti karena cacat,
sakit, usia lanjut atau karena bencana alam. Kondisi kemiskinan seperti ini
menurut Kartasasmita (1996: 235) disebut sebagai “Persisten Poverty”
yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun. Daerah seperti ini
pada umumnya merupakan daerah yang kritis sumberdaya alamnya atau
daerah yang terisolir.
2. Kemiskinan kultural mengacu pada sikap hidup seseorang atau kelompok
masyarakat yang disebabkan oleh gaya hidup, kebiasaan hidup dan budaya
di mana mereka merasa hidup berkecukupan dan tidak merasa kekurangan.
Kelompok masyarakat seperti ini tidak mudah untuk diajak berpartisipasi
dalam pembangunan, tidak mau berusaha untuk memperbaiki dan merubah
tingkat kehidupannya. Akibatnya tingkat pendapatan mereka rendah
menurut ukuran yang dipakai secara umum. Hal ini sejalan dengan apa yang
dikatakan Baswir (1997: 21) bahwa ia miskin karena faktor budaya seperti
malas, tidak disiplin, boros dan lain-lainnya.
3. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktorfaktor
buatan manusia seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil, distribusi
aset produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi serta tatanan ekonomi
dunia yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu
(Baswir, 1997: 21). Selanjutnya Sumodiningrat (1998: 27) mengatakan
bahwa munculnya kemiskinan struktural disebabkan karena berupaya
menanggulangi kemiskinan natural, yaitu dengan direncanakan bermacammacam
program dan kebijakan. Namun karena pelaksanaannya tidak
seimbang, pemilikan sumber daya tidak merata, kesempatan yang tidak
sama menyebabkan keikutsertaan masyarakat menjadi tidak merata pula,
sehingga menimbulkan struktur masyarakat yang timpang. Menurut
Kartasasmita (1996: 236) hal ini disebut “accidental poverty”, yaitu
kemiskinan karena dampak dari suatu kebijaksanaan tertentu yang
menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.

Presiden: ASEAN Community Terkait Pemberantasan Kemiskinan di Negara ASEAN

Nusa Dua (ANTARA News) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan rencana integrasi sepuluh negara Asia Tenggara dalam “ASEAN Community” seharusnya tidak terpisah dari upaya pemberantasan kemiskinan di wilayah tersebut.

Dalam pidatonya pada pembukaan pertemuan menteri keuangan ASEAN di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Jumat, Presiden mengingatkan pemberantasan kemiskinan di wilayah Asia Tenggara tidak bisa diabaikan karena dari 1,4 miliar penduduk dunia yang masih hidup dengan penghasilan di bawah 1,25 dolar AS per hari, sebanyak 118 juta di antaranya berada di negara-negara ASEAN.

“Karena itu, saya percaya upaya kita bersama harus berkontribusi pada kemampuan kita untuk mengatasi kemiskinan, salah satu isu yang paling mengemuka di wilayah ini,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, negara-negara ASEAN harus mampu bekerja sama untuk merumuskan kebijakan finansial yang bersifat inklusif kepada semua lapisan masyarakat sehingga setiap orang bisa mendapatkan akses ke berbagai jasa keuangan seperti asuransi dan perbankan.

Selain itu, Presiden mengatakan, pemerintah negara-negara ASEAN juga harus mampu menyediakan jasa fasilitas perbankan kepada warganya yang masih miskin agar mereka bisa mendapatkan akses kredit untuk memulai usaha kecil.

“Melalui partisipasi inklusif yang lebih besar dari berbagai lapisan masyarakat kita bisa meraih lebih banyak lagi ide baru atau inovasi. Bahkan kita bisa meningkatkan lagi makna ASEAN yang berpusat pada hubungan orang per orang,” ujarnya.

Presiden dalam pidatonya mencontohkan program Kredit Usaha Rakyat yang diterapkan pemerintah sebagai salah satu langkah pemberantasan kemiskinan di Indonesia.

Program KUR yang telah memberikan akses perbankan kepada 400 ribu orang dari 4,1 juta debitur yang tadinya sama sekali tidak mengenal jasa perbankan itu, diyakini oleh Presiden dapat menjadi salah satu contoh kerja sama ASEAN di sektor keuangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memberantas kemiskinan.

Presiden dalam pidatonya juga berharap “ASEAN Community” yang ditargetkan tercapai pada 2015 jangan justru menambah kesenjangan di antara anggotanya.

Untuk itu, kata dia, kerja sama ekonomi di antara negara-negara anggota ASEAN harus menyentuh masalah pembangunan yang mengatasi kesenjangan.

“Karena itu kita harus fokus pada kebijakan struktural dan reformasi sekaligus juga membangun koridor ekonomi untuk mendorong keterhubungan nasional dan regional serta pembangunan infrastruktur regional,” tuturnya.

Sebagai salah satu cara untuk mewujudkan keterhubungan ASEAN dari segi infrastruktur, Presiden berharap dana infrastruktur ASEAN dapat ditingkatkan jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan negara-negara anggotanya sehingga tidak akan terjadi kesenjangan.

Dalam pidatonya, Presiden juga berharap ASEAN dapat berperan sebagai pemecah masalah di wilayahnya sendiri sekaligus menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan dan pembangunan dalam berbagai bidang kerjasama mulai dari sektor keuangan, ketahanan energi dan pangan, serta mengatasi perubahan iklim.

Table Xl.2

Percent Of Population Below The National Poverty Line 1993-2007

Country

1993

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2007

Brunei Darussalam

Cambodia

39,0

36,1

35,9

34,7

30,1

Indonesia

17,7

24,2

23,4

19,1

18,4

18,2

17,4

16,7

16,7

16,6

Laos

46,1

38,6

33,5

32,7

Malaysia

8,7

6,1

7,5

5,1

5,7

3,6

Myanmar

22,9

26,6

32,0

Philipphines

40,6

36,8

39,4

30,0

32,9

Singapore

Thailand

13,0

11,4

13,0

15,9

14,2

13,0

9,8

11,2

12,0

8,5

Vietnam

50,9

37,0

28,9

19,5

16,0

14,8

Table Xl.3.

Percentage Of Population Below the $1,25 and $ 2 PPP Poverty Line

In the Period 1990-2008

Country

Below $125 PPP

Below $2 PPP

Latest National Poverty Indidence

Brunei Darussalam

Cambodia

25,8

57,8

30,1 (2007)

Indonesia

29,4

54,6

16,6 (2007)

Laos

44,0

76,9

32,7 (2003)

Malaysia

2,0

7,8

3,6  (2007)

Myanmar

32,0 (2005)

Philipphines

22,6

45,0

32,9 (2006)

Singapore

Thailand

2,0

11,5

8,5 (2008)

Vietnam

21,5

48,4

14,8 (2007)

sumber:
http://www.antaranews.com/berita/253336/presiden-asean-community-terkait-pemberantasan-kemiskinan
syaifulbahriunairbab2.pdf-adobereader
ADB Key Indicators 2010; and Latest website of national statistical offices of AMS
pukul: 13:56

About Rosita

saya adalah seorang mahasiswi di sebuah universitas swasta di daerah depok yaitu universitas Gunadarma.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s