Indeks Kebahagiaan Nasional

LATAR BELAKANG

Pemerintah Kerajaan Bhutan adalah salah satu negara yang secara serius mengembangkan Indeks Gross National Happiness (GHN) sebagai pedoman dalam menyusun kebijakan dan program pembangunan negara. Ide mengukur tingkat kebahagiaan bangsa itu pertama kali dicetuskan oleh Raja ke IV Bhutan, Jigme Singye Wangchuck, pada tahun 1970an. Dasar pemikirannya adalah bahwa pembangunan yang berlanjut perlu menggunakan pendekatan yang holistik dalam mencapai kemajuan bangsa; dengan demikian memberikan bobot penting pada aspek non-ekonomi daripada pendekatan PDB yang hanya memperhitungkan aspek ekonomi saja.

Upaya penyusunan GHN di Bhutan dimulai sejak 2005, ketika the Centre for Bhutan Studies (CBS) merumuskan indikator untuk mengukur tingkat kebahagiaan bangsa, melalui kajian literatur dan konsultasi dengan berbagai pihak. Survei pendahuluan dilakukan pada tahun 2006 sebelum survei pertama kali mengukur Indeks GHN dilakukan pada tahun 2007, di mana seberkas kuesioner yang mencakup 750 variabel (meliputi variabel obyektif, subyektif dan terbuka) ditanyakan kepada 950 orang di 12 daerah. Namun sedikitnya responden memaksa CBS tidak mengangap hasil survei tersebut cukup sahih untuk ditetapkan secara resmi. Survei berikutnya dilakukan pada tahun 2010, dalam waktu 9 bulan, dengan jumlah kuesioner yang terisi lengkap sebanyak 7000 lembar lebih, dari 20 daerah perkotaan dan pedesaan.

KONSEP GHN

Tingkat kebahagian bangsa diukur dari sembilan ranah/domain kebahagiaan bangsa, yaitu: ketenangan psikologis, kesehatan, pendidikan, penggunaan waktu, ketahanan dan keragaman budaya, tata kelola pemerintahan, vitalitas komunitas, ketahanan dan keragaman lingkungan hidup, dan standar hidup. Ke 9 ranah kebahagiaan ini kemudian diuraikan menjadi 33 indikator yang terukur untuk menentukan tingkat kebahagiaan bangsa. Ke 33 indikator dipilih untuk memenuhi kriteria handal secara statistik, penting secara normatif, dan mudah dimengerti oleh kalangan luas.

Ke 9 ranah kebahagiaan tersebut mendapat bobot yang sama, karena dianggap sama pentingnya dalam menentukan tingkat kebahagian bangsa. Namun dalam setiap ranah, indikator obyektif diberi bobot yang lebih besar daripada indikator subyektif dan jawaban terbuka. GHN dapat dipilah ke dalam kelompok-kelompok penduduk dan wilayah, sehingga dapat digunakan  untuk merancang kebijakan dan program peningkatan kebahagiaan bangsa secara rinci dan terpadu; baik oleh pemerintah pusat, daerah, LSM atau dunia usaha.

INDEKS GHN BHUTAN 2010

Survei GHN menghasilkan 3 jenis hasil hitungan: hitungan kepala/headcount, intensitas dan indeks GHN.  Hitungan kepala menunjukkan persentase penduduk yang merasa bahagia (happy); intensitas menunjukkan rata-rata kecukupan yang dinikmati oleh penduduk; dan indeks GHN menggambarkan keadaan keseluruhan kebahagiaan suatu bangsa. Indeks GHN berkisar antara 0-1, angka lebih besar  menunjukkan indeks kebahagiaan lebih tinggi. Indeks ini berasal dari pengurangan perkalian antara persetase penduduk tidak bahagia dengan persentase intensitas dari nilai 1 (Indeks GHN = 1-H*A, di mana H: persentase penduduk tidak bahagia dan A: persentase intensitas).

Hasilnya adalah sebagai berikut.

Headcount= 40,9% berarti 40,9% penduduk menunjukkan kecukupan dalam 6 atau lebih ranah kebahagiaan dan dengan demikian dianggap ‘bahagia’.

Intensitas = 43,4% berarti penduduk yang dianggap tidak bahagia mengalami kekurangan dalam 43,4% semua ranah. Penduduk yang tidak bahagia tersebut rata-rata mengalami ketidakcukupan dalam 43,4% x 9 ranah = 3,87  ranah dan menikmati kecukupan hanya dalam 5,13 ranah.

Indeks GHN = 0,743 berarti bangsa Bhutan relatif cukup berbahagia, ditunjukkan dengan indeks GHN yang mendekati angka 1.

HASIL LAIN SURVEI

Survei kabahagiaan bangsa di Bhutan tahun 2010 itu juga menunjukkan hal-hal yang menarik, diantaranya adalah:

  • Pria umumnya lebih merasakan kebahagiaan daripada wanita
  • Penduduk Bhutan merasakan kecukupan dalam kesehatan, ketahanan dan keragaman lingkungan hidup, ketenangan jiwa, dan vitalitas komunitas.
  • Di perkotaan, 50% penduduk merasa bahagia; lebih banyak daripada di pedesaanm yang hanya 37%.
  • Wilayah perkotaan lebih baik dalam aspek kesehatan, standar hidup dan pendidikan. Wilayah pedesaan lebih baik dalam vitalitas komunitas, ketahanan dan keragaman budaya, dan tata kelola pemerintahan.
  • Tingkat kebahagiaan dirasakan lebih tinggi pada mereka yang lulus SD atau lebih tinggi daripada mereka yang tidak mendapatkan pendidikan formal, tetapi pendidikan yang lebih tinggi tidak banyak mempengaruhi indeks kebahagiaan.
  • Mereka yang paling bahagia menurut pekerjaan diantaranya adalah pegawai negeri dan  ulama. Yang menarik, para pengangur lebih merasakan  kebahagiaan daripada pekerja swasta, ibu rumahtangga, petani atau polisi/tentara.
  • Mereka yang tidak menikah dan anak muda adalah kelompok yang paling bahagia.
  • Tidak ada perbedaan yang cukup besar antara daerah-daerah dalam tingkatan kebahagiaan.

Peringkat kebahagiaan berbeda dengan peringkat pendapatan per kapita. Beberapa daerah menunjukkan peringkat yang tinggi dalam indeks kebahagiaan namun tidak dalam peringkat pendapatan per kapita.

Referensi:
http://www.bappenas.go.id/blog/?p=592

About Rosita

saya adalah seorang mahasiswi di sebuah universitas swasta di daerah depok yaitu universitas Gunadarma.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s